Hingga hari ini, di Jawa Barat, Tak
ada Satu pun nama jalan & nama gedung yang menggunakan nama tokoh Pahlawan
Nasional; Gajah Mada ataupun Hayam Wuruk. Karena Orang Sunda alergi dengan
kedua nama tersebut. Kenapa?
Pada 1927, C.C.Berg menterjemahkan lontar "Kidung Sunda" yang
ditemukan di Bali. Orang Sunda yang secara turun temurun pernah mendengar
"Carita Parahyangan" - (Koleksi naskah Kuno Museum Nasional No.Reg
Kropak: 406), yang digubah pada akhir abad ke 16, mengetahui sekilas kisah
Perang Bubat.
Nah, dengan adanya "Kidung Sunda" ini, kian memperkuat kebencian Orang Sunda atas Majapahit (Jawa), karena mereka menganggap Gajah Mada & Hayam Wuruk telah berlaku sadis membantai rombongan Prabu Lingga Buana yang tengah menghantarkan putrinya - Dyah Pitaloka ke Majapahit untuk menikah dengan Hayam Wuruk.
C.C.Berg yang paham atas kondisi ini, bersemangat menyebarkan Kisah Perang Bubat ke kalangan Priyai Parahyangan, sejak 1929-1942, hingga merasuk ke tatanan Warga Sunda.
Tentu dalam kapasitasnya untuk memecah belah perjuangan kaum pergerakan kita. Karena pada 28 Oktober 1928 telah tercapai kesepakatan "Sumpah Pemuda". C.C.Berg dan antek-anteknya ingin agar Orang Sunda membenci Orang Jawa, begitu pula sebaliknya, dan itu berhasil.
Di era yang sama, di Tanah Jawa, Kitab "Dharmogandhul" terus dipopulerkan di kalangan "Abangan Jawa". Kepada Orang Jawa Abangan ini, mereka diajak untuk Membenci Orang-orang Islam dan Membenci Ibadah Haji yang mereka anggap sebagai Terlalu Arab!!
Lalu dengan "Kidung Sunda" ini, Orang Jawa Abangan termakan isu yang sengaja disebarkan oleh Kolonial Belanda, bahwa Wanita Sunda itu adalah Matrealistis (Rakus Harta). Buktinya, nenek moyang mereka - Dyah Pitaloka & Keluarga Kerajaan Galuh Pajajaran Tidak Malu-malu untuk melamar Hayam Wuruk, dengan harapan, Dyah Pitaloka dijadikan Permaisuri Majapahit. Nah, apa sih yang sebenarnya terjadi?
FAKTA SEJARAH PERANG BUBAT 1357
Tanpa sepengetahuan Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk yang kala itu masih bujangan, berniat menikahi Dyah Pitaloka, Putri Prabu Lingga Buana dari Kerajaan Galuh. Mak Comblangnya adalah Madhu. Untuk menunjukan kebesaran Kerajaan Galuh, Prabu Lingga Buana beserta puluhan ribu bala tentaranya datang ke Majapahit, menghantar Dyah Pitaloka, dengan iring-iringan kapal besar dan kecil yang jumlahnya mencapai 2000 kapal.
Sementara itu, di Ibukota Majapahit, Trowulan, Hayam Wuruk sibuk mempersiapkan acara penyambutan tamu agung. Sungguh gegabah Prabu Hayam Wuruk, membuat acara agung tanpa memberitahukan Mahapatihnya - Gajah Mada. Dua Orang Paman Hayam Wuruk, Bhre Kahuripan dan Bhre Daha tidak setuju dengan calon permaisuri pilihan Hayam Wuruk, Putri Sunda yang cantik jelita itu. Sebab tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk, kedua pamannya berniat menjodohkan Putri Daha dengan Hayam Wuruk. Maka diam-diam diaturlah rencana Sabotase pernikahan ini.
Nah, Gajah Mada yang tidak tahu menahu proses perjodohan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, kaget luar biasa mendapat laporan kedatangan puluhan ribu tentara Sunda Galuh. Tilik Sandi melaporkannya dari Tuban tentang "marabahaya" ini.
Panglima tentara Sunda menunjukan "Lencana Hayam Wuruk" kepada pimpinan penjaga Pantai Utara Majapahit (Pantura), dan mengizinkan masuk rombongan ini ke perairan Majapahit. Namun, Gajah Mada yang kuatir dengan kisah tipu muslihat "Kuda Troya" di Yunani yang ia ketahui dari Orang-orang Asing, mengalihkan ribuan kapal Sunda ini ke Pelabuhan Sungai - Bubat, dan menahannya di sana.
Ribuan tentara Daha, entah siapa yang memerintahkan, tiba-tiba sudah ada di seberang sungai, berhadapan dengan Lapangan Bubat, tempat rombongan Kerajaan Sunda berkemah. Keadaan menjadi mencekam!
Utusan Prabu Galuh, Patih Anepaken, beserta 300 pengawalnya mendatangi rumah Gajah Mada, untuk menanyakan hal ini. Terjadilah kesalah pahaman diantara kedua belah pihak. Rupanya Gajah Mada dan Anepaken sama-sama "sumbuh pendek", mudah meletup emosinya. Hampir saja terjadi pertempuran dipekarangan rumah Gajah Mada, yang bersebelahan dengan Masigit Agung (Masjid Agung), namun dapat dicegah oleh Imam orang Islam Majapahit dan Smaranata.
Sang Patih Sunda, dengan kecewa, kembali ke Bubat, dan melaporkan tentang sikap Gajah Mada kepada Prabu Lingga Buana. Mendapatkan laporan yang mengecewakan, Sang Prabu pun murka! Tak lama kemudian, terjadi provokasi. Elit tentara Daha membunuh beberapa orang tentara Sunda. Terjadilah perkelahian seru, namun belum membesar.
Gajah Mada mendapat laporan dari anak buahnya, bahwa benar, Kerajaan Sunda tidak berniat baik datang ke Majapahit. Telah terjadi perang di Lapangan Bubat. Di sana Pasukan Daha tidak ada yang memimpin, kita bisa kalah. Sewaktu-waktu, puluhan ribu tentara Sunda bisa menyerbu Ibukota, keadaan genting!
Gajah Mada mengajak seluruh pengawalnya, berangkat ke Medan Perang. Kemudian ia mengirim utusan kepada Prabu Hayam Wuruk, dan melaporkan bahwa telah terjadi pertempuran di Lapangan Bubat.
Benar saja, hampir-hampir pasukan Daha dapat dibinasakan oleh Pasukan Galuh. Untung datang Pasukan Gajah Mada, disusul dengan Pasukan Hayam Wuruk. Keadaan menjadi berbalik. Dalam sekejab, puluhan ribu tentara Sunda Galuh dapat dibinasakan. Patih Anepaken tewas oleh Gajah Mada, dan Prabu Lingga Buana tewas oleh Hayam Wuruk (Versi CC.Berg). Dalam versi Slamet Muljana; Raja Sunda tewas ditangan kedua Pamannya Hayam Wuruk.
Selesai perang, Hayam Wuruk pun sedih dan kuatir, ia mencari-cari kekasihnya, Dyah Pitaloka. Namun sang pujaan hati telah mati bunuh diri, setelah mendapat laporan bahwa Ayahnya tewas terbunuh oleh kekasihnya sendiri - Hayam Wuruk. Pecahlah tangisan Hayam Wuruk, meratapi jenazah Dyah Pitaloka. Gajah Mada menjadi bingung dan serba salah.
DIPECATNYA GAJAH MADA 1358
Dalam musyawarah agung di Wilwatikta, kedua paman Hayam Wuruk mempermasalahkan Gajah Mada. Dengan berat hati, Gajah Mada pun dipecat oleh Hayam Wuruk, 1358, tanpa proses pengungkapan fakta, apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Ini juga merupakan Solusi agar Kerajaan Galuh tidak dibinasakan oleh Majapahit. Karena, beberapa bulan setelah Perang Bubat, ada upaya pihak Sunda menyerang Majapahit untuk menuntut balas, namun upaya penyerangan ini dapat dipukul mundur oleh Pengawal Pantura.
Taklama setelah Gajah Mada dipecat, ia tinggal di villa-nya di Tongas, Probolinggo, villa pemberian Hayam Wuruk. Majapahit dan Galuh Pajajaran pun islah dan berdamai. Karena Majapahit tidak mungkin menyerang Galuh Pajajaran, lantaran kakek moyang Hayam Wuruk adalah Raja Galuh. Hayam Wuruk adalah Cucu Raden Wijaya, dan Raden Wijaya adalah Cucu Prabu Guru Dharmasiksa.
Nah, itulah kenapa Orang Sunda dan Orang Jawa sampai saat ini masih saling curiga. Karena informasi tentang Perdamaian Majapahit - Galuh tidak sampai kepada kita, karena kedua belah pihak termakan propaganda Kolonial Belanda.
RUJUKAN SEJARAH:
1. Lontar Kuno, Nagarakrtagama 1365 (Mpu Prapanca, tdk menuliskan secara vulgar ttg Perang Bubat karena kuatir akan membuat Hayam Wuruk murka. Sang mpu justru menuliskan Pentas Seni Perang-perang di Lapangan Bubat).
2.Carita Parahyangan, Lontar abad 16, Perang Bubat dikabarkan sekilas saja.
3.Kidung Sunda, lontar ini yg ditemukan oleh CC.Berg digubah pada tahun 1800an, salinan lontar yg lebih tuanya belum ditemukan. Perang Bubat dikisahkan dengan vulgar.
ARTEFAK:
1. Bekas Tambatan Kapal di Pelabuhan Bubat
2. Temuan Senjata-senjata kuno milik tentara Galuh dan Majapahit di Sungai TKP.
3. Situs Kapal perang Kerajaan Galuh, di Laut Tuban, belum diangkat, tapi isinya telah lama dijarah maling.
Penghormatan Terakhir untuk Gajah Mada; Prasasti Canggu (Trowulan I) 1358. (Sufyan al-Jawi)
sumber : www.islamianews.com
Nah, dengan adanya "Kidung Sunda" ini, kian memperkuat kebencian Orang Sunda atas Majapahit (Jawa), karena mereka menganggap Gajah Mada & Hayam Wuruk telah berlaku sadis membantai rombongan Prabu Lingga Buana yang tengah menghantarkan putrinya - Dyah Pitaloka ke Majapahit untuk menikah dengan Hayam Wuruk.
C.C.Berg yang paham atas kondisi ini, bersemangat menyebarkan Kisah Perang Bubat ke kalangan Priyai Parahyangan, sejak 1929-1942, hingga merasuk ke tatanan Warga Sunda.
Tentu dalam kapasitasnya untuk memecah belah perjuangan kaum pergerakan kita. Karena pada 28 Oktober 1928 telah tercapai kesepakatan "Sumpah Pemuda". C.C.Berg dan antek-anteknya ingin agar Orang Sunda membenci Orang Jawa, begitu pula sebaliknya, dan itu berhasil.
Di era yang sama, di Tanah Jawa, Kitab "Dharmogandhul" terus dipopulerkan di kalangan "Abangan Jawa". Kepada Orang Jawa Abangan ini, mereka diajak untuk Membenci Orang-orang Islam dan Membenci Ibadah Haji yang mereka anggap sebagai Terlalu Arab!!
Lalu dengan "Kidung Sunda" ini, Orang Jawa Abangan termakan isu yang sengaja disebarkan oleh Kolonial Belanda, bahwa Wanita Sunda itu adalah Matrealistis (Rakus Harta). Buktinya, nenek moyang mereka - Dyah Pitaloka & Keluarga Kerajaan Galuh Pajajaran Tidak Malu-malu untuk melamar Hayam Wuruk, dengan harapan, Dyah Pitaloka dijadikan Permaisuri Majapahit. Nah, apa sih yang sebenarnya terjadi?
FAKTA SEJARAH PERANG BUBAT 1357
Tanpa sepengetahuan Gajah Mada, Prabu Hayam Wuruk yang kala itu masih bujangan, berniat menikahi Dyah Pitaloka, Putri Prabu Lingga Buana dari Kerajaan Galuh. Mak Comblangnya adalah Madhu. Untuk menunjukan kebesaran Kerajaan Galuh, Prabu Lingga Buana beserta puluhan ribu bala tentaranya datang ke Majapahit, menghantar Dyah Pitaloka, dengan iring-iringan kapal besar dan kecil yang jumlahnya mencapai 2000 kapal.
Sementara itu, di Ibukota Majapahit, Trowulan, Hayam Wuruk sibuk mempersiapkan acara penyambutan tamu agung. Sungguh gegabah Prabu Hayam Wuruk, membuat acara agung tanpa memberitahukan Mahapatihnya - Gajah Mada. Dua Orang Paman Hayam Wuruk, Bhre Kahuripan dan Bhre Daha tidak setuju dengan calon permaisuri pilihan Hayam Wuruk, Putri Sunda yang cantik jelita itu. Sebab tanpa sepengetahuan Hayam Wuruk, kedua pamannya berniat menjodohkan Putri Daha dengan Hayam Wuruk. Maka diam-diam diaturlah rencana Sabotase pernikahan ini.
Nah, Gajah Mada yang tidak tahu menahu proses perjodohan Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka, kaget luar biasa mendapat laporan kedatangan puluhan ribu tentara Sunda Galuh. Tilik Sandi melaporkannya dari Tuban tentang "marabahaya" ini.
Panglima tentara Sunda menunjukan "Lencana Hayam Wuruk" kepada pimpinan penjaga Pantai Utara Majapahit (Pantura), dan mengizinkan masuk rombongan ini ke perairan Majapahit. Namun, Gajah Mada yang kuatir dengan kisah tipu muslihat "Kuda Troya" di Yunani yang ia ketahui dari Orang-orang Asing, mengalihkan ribuan kapal Sunda ini ke Pelabuhan Sungai - Bubat, dan menahannya di sana.
Ribuan tentara Daha, entah siapa yang memerintahkan, tiba-tiba sudah ada di seberang sungai, berhadapan dengan Lapangan Bubat, tempat rombongan Kerajaan Sunda berkemah. Keadaan menjadi mencekam!
Utusan Prabu Galuh, Patih Anepaken, beserta 300 pengawalnya mendatangi rumah Gajah Mada, untuk menanyakan hal ini. Terjadilah kesalah pahaman diantara kedua belah pihak. Rupanya Gajah Mada dan Anepaken sama-sama "sumbuh pendek", mudah meletup emosinya. Hampir saja terjadi pertempuran dipekarangan rumah Gajah Mada, yang bersebelahan dengan Masigit Agung (Masjid Agung), namun dapat dicegah oleh Imam orang Islam Majapahit dan Smaranata.
Sang Patih Sunda, dengan kecewa, kembali ke Bubat, dan melaporkan tentang sikap Gajah Mada kepada Prabu Lingga Buana. Mendapatkan laporan yang mengecewakan, Sang Prabu pun murka! Tak lama kemudian, terjadi provokasi. Elit tentara Daha membunuh beberapa orang tentara Sunda. Terjadilah perkelahian seru, namun belum membesar.
Gajah Mada mendapat laporan dari anak buahnya, bahwa benar, Kerajaan Sunda tidak berniat baik datang ke Majapahit. Telah terjadi perang di Lapangan Bubat. Di sana Pasukan Daha tidak ada yang memimpin, kita bisa kalah. Sewaktu-waktu, puluhan ribu tentara Sunda bisa menyerbu Ibukota, keadaan genting!
Gajah Mada mengajak seluruh pengawalnya, berangkat ke Medan Perang. Kemudian ia mengirim utusan kepada Prabu Hayam Wuruk, dan melaporkan bahwa telah terjadi pertempuran di Lapangan Bubat.
Benar saja, hampir-hampir pasukan Daha dapat dibinasakan oleh Pasukan Galuh. Untung datang Pasukan Gajah Mada, disusul dengan Pasukan Hayam Wuruk. Keadaan menjadi berbalik. Dalam sekejab, puluhan ribu tentara Sunda Galuh dapat dibinasakan. Patih Anepaken tewas oleh Gajah Mada, dan Prabu Lingga Buana tewas oleh Hayam Wuruk (Versi CC.Berg). Dalam versi Slamet Muljana; Raja Sunda tewas ditangan kedua Pamannya Hayam Wuruk.
Selesai perang, Hayam Wuruk pun sedih dan kuatir, ia mencari-cari kekasihnya, Dyah Pitaloka. Namun sang pujaan hati telah mati bunuh diri, setelah mendapat laporan bahwa Ayahnya tewas terbunuh oleh kekasihnya sendiri - Hayam Wuruk. Pecahlah tangisan Hayam Wuruk, meratapi jenazah Dyah Pitaloka. Gajah Mada menjadi bingung dan serba salah.
DIPECATNYA GAJAH MADA 1358
Dalam musyawarah agung di Wilwatikta, kedua paman Hayam Wuruk mempermasalahkan Gajah Mada. Dengan berat hati, Gajah Mada pun dipecat oleh Hayam Wuruk, 1358, tanpa proses pengungkapan fakta, apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Ini juga merupakan Solusi agar Kerajaan Galuh tidak dibinasakan oleh Majapahit. Karena, beberapa bulan setelah Perang Bubat, ada upaya pihak Sunda menyerang Majapahit untuk menuntut balas, namun upaya penyerangan ini dapat dipukul mundur oleh Pengawal Pantura.
Taklama setelah Gajah Mada dipecat, ia tinggal di villa-nya di Tongas, Probolinggo, villa pemberian Hayam Wuruk. Majapahit dan Galuh Pajajaran pun islah dan berdamai. Karena Majapahit tidak mungkin menyerang Galuh Pajajaran, lantaran kakek moyang Hayam Wuruk adalah Raja Galuh. Hayam Wuruk adalah Cucu Raden Wijaya, dan Raden Wijaya adalah Cucu Prabu Guru Dharmasiksa.
Nah, itulah kenapa Orang Sunda dan Orang Jawa sampai saat ini masih saling curiga. Karena informasi tentang Perdamaian Majapahit - Galuh tidak sampai kepada kita, karena kedua belah pihak termakan propaganda Kolonial Belanda.
RUJUKAN SEJARAH:
1. Lontar Kuno, Nagarakrtagama 1365 (Mpu Prapanca, tdk menuliskan secara vulgar ttg Perang Bubat karena kuatir akan membuat Hayam Wuruk murka. Sang mpu justru menuliskan Pentas Seni Perang-perang di Lapangan Bubat).
2.Carita Parahyangan, Lontar abad 16, Perang Bubat dikabarkan sekilas saja.
3.Kidung Sunda, lontar ini yg ditemukan oleh CC.Berg digubah pada tahun 1800an, salinan lontar yg lebih tuanya belum ditemukan. Perang Bubat dikisahkan dengan vulgar.
ARTEFAK:
1. Bekas Tambatan Kapal di Pelabuhan Bubat
2. Temuan Senjata-senjata kuno milik tentara Galuh dan Majapahit di Sungai TKP.
3. Situs Kapal perang Kerajaan Galuh, di Laut Tuban, belum diangkat, tapi isinya telah lama dijarah maling.
Penghormatan Terakhir untuk Gajah Mada; Prasasti Canggu (Trowulan I) 1358. (Sufyan al-Jawi)
sumber : www.islamianews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar